Yayasan Al-Azhar Assyarif, Lembaga Pendidikan Non Formal Yang loloskan Puluhan Santri ke Mesir

PINRANG, BestNews19.com – Yayasan Al Azhar Assyarif yang berada di Jalan Rappang kelurahan Lalengbata kecamatan Paleteang kabupaten Pinrang, adalah sebuah yayasan pendidikan non formal yang mengkhususkan kajian Kitab Kuning dan bahasa Arab, ternyata mampu meloloskan 14 santri dalam dua tahun terakhir menembus Universitas Al Azhar di Kairo Mesir.

Pembinaan yayasan Al Azhar Assyarif Ustadz H. Abdullah Wahab, Lc saat ditemui, Ahad 21 Julu 2019 mengatakan, jika keberhasilan anak santri yang menuntut ilmu di yayasan tersebut karena kajian nahwu Shorof atau kitab kuning dan belajar bahasa Arab secara mendalam yang tidak ditemukan di pesantren formal.

Abdullah Wahab mengakui para santri yang menuntut ilmu tersebut berasal dari berbagai pesantren bahkan perguruan tinggi islam,” disini para santri mendalami Belajar nahwu Shorof dan bahasa Arab secara intensif sehingga menjadi modal utama untuk meembus perguruan tinggi di Timur Tengah,” jelasnya, (21/07/2019).

Lulusan Universitas Al Azhar Kairo Mesir ini mengakui jika lembaga pendidikan yang dibinanya tersebut belum formal namun mampu memberi kontribusi besar untuk membentuk karakter dan keilmuan para santri dan santriwati yang menuntut ilmu.

Dan tenaga pengajar pun masih sangat terbatas, dimana Abdullah Wahab mengakui jika saat ini tinggal dirinya yang membina para santri tersebut.

” Sekarang saya sendiri yang mengajar, namun kami sudah melakukan komunikasi dengan Ikatan Cendekiawan Timur Tengah (ICATT) untuk membantu kami membina para santri yang ada disini,” ujarnya.

Untuk memenuhi kebutuhan para santri yang menetap di yayasan tersebut, dirinya mengaku banyak bantuan dari para donatur diantarnya dari lembaga sosial Pasukan Amal Saleh (Paskas) yang sering membantu konsumsi dan uang pembinaan untuk para santri khususnya yang akan menuntut ilmu ke Timur Tengah.

”Kami menerima bantuan dari para donatur, walaupun belum seberapa namun mampu membantu anak-anak yang ada disini,” akunya.

Abdullah Wahab berharap kedepannya ada kepedulian yang lebih besar untuk yayasan kajian kitab kuning dan bahasa Arab tersebut dari pemerintah daerah maupun donatur lainnya (Din/*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *