MAKASSAR, BESTNEWS – Sore yang semula biasa di kawasan Kanal Lembo, Kecamatan Tallo, Kota Makassar, mendadak berubah menjadi medan perang. Jumat (30/1/2026) sekitar pukul 16.30 WITA, bentrokan antar dua kelompok warga pemuda Layang, Kelurahan Bunga Eja Beru, melawan warga Lembo, Kelurahan Lembo meledak dalam aksi saling serang brutal menggunakan batu dan busur panah.
Suasana mencekam menyelimuti pinggir kanal. Teriakan, hujan batu, dan desing anak panah terdengar bersahutan. Di tengah kekacauan itulah tragedi terjadi.
Salah seorang peserta bentrokan, Basir Dg. Alle (41), seorang buruh harian, roboh setelah sebuah busur menembus dada kirinya. Dalam kondisi berlumuran darah, Basir sempat berteriak meminta tolong kepada rekannya, mengabarkan bahwa dirinya terkena panah.
Melihat kondisi korban yang kritis, salah satu warga Sapiria segera mengevakuasi Basir dan membawanya ke Rumah Sakit Angkatan Laut. Namun, takdir berkata lain. Luka tusuk yang mengenai bagian vital membuat nyawanya tak tertolong. Basir dinyatakan meninggal dunia saat menjalani perawatan.
Korban diketahui bernama lengkap Basir Dg. Alle, berusia 41 tahun, berprofesi sebagai buruh harian, dan berdomisili di Jalan Tinumbu Lorong 2, RT 001/RW 002, Kecamatan Tallo, Kota Makassar.
Tak lama setelah insiden berdarah itu, aparat keamanan bergerak cepat.
Sekitar pukul 16.50 WITA, personel Koramil 1408-02/Tallo yang dipimpin Mayor Arh Rohmad Agus Hidayat, S.Sos, bersama piket fungsi Polsek Tallo, tiba di lokasi kejadian.
Aparat langsung membubarkan massa yang masih terlibat saling serang untuk mencegah jatuhnya korban tambahan.
Situasi yang sempat memanas kembali mendapat penanganan lanjutan saat tim Jatanras Polrestabes Makassar tiba di TKP pada pukul 16.55 WITA.
Polisi melakukan penyisiran intensif di wilayah Layang dan Sapiria guna mengamankan situasi dan memburu pihak-pihak yang terlibat dalam bentrokan maut tersebut.
Hampir satu jam setelah tragedi berdarah itu, tepat pukul 17.50 WITA, kondisi di wilayah Kelurahan Lembo dan sekitarnya akhirnya dinyatakan aman dan kondusif, meski duka dan ketegangan masih menyelimuti warga.
Perang kelompok ini kembali menjadi alarm keras tentang rawannya konflik horizontal di kawasan padat penduduk Makassar, di mana senjata tradisional seperti busur masih menjadi alat mematikan dalam bentrokan warga.
Kini, aparat kepolisian terus melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku penembakan busur yang merenggut nyawa Basir Dg. Alle, serta menelusuri akar konflik yang memicu pecahnya perang antar kampung tersebut.
Satu nyawa telah melayang.
Luka sosial pun kian menganga. Kanal Lembo hari itu bukan hanya saksi bentrokan, tetapi juga saksi bisu sebuah tragedi kemanusiaan (A&T).






