PINRANG, BESTNEWS — Program swasembada pangan di Kabupaten Pinrang menuai sorotan keras dari kalangan petani. Kelompok Tani Lapuro di Kelurahan Maccirinna, Kecamatan Patampanua, bersama sejumlah petani di Kecamatan Lanrisang mengeluhkan kegagalan panen yang mereka alami.
Kondisi ini memicu kekecewaan mendalam, terutama karena para petani merasa kurang mendapatkan pendampingan dari Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) saat menghadapi persoalan di lapangan.
Salah satu anak petani di Kelurahan Maccirinna, Amus, mengungkapkan bahwa kehadiran PPL selama ini dinilai tidak maksimal. Menurutnya, PPL lebih sering hadir hanya untuk menyampaikan program, namun tidak terlihat saat petani menghadapi masa sulit.
“Petani saat ini sangat kecewa. Kami mempertanyakan kinerja PPL di wilayah masing-masing. Mereka datang hanya saat ada program, tapi saat gagal panen seperti sekarang, mereka tidak ada,” ujarnya.
Amus juga menyoroti persoalan harga hasil pertanian yang dinilai tidak stabil dan cenderung merugikan petani. Ia menyebut, dalam situasi seperti itu, petani berharap ada pendampingan dan pembelaan dari pihak terkait (12/04/2026).
“Harga dimainkan, petani diam, PPL juga diam. Kami butuh pendamping yang berpihak, bukan sekadar janji,” tambahnya.
Selain itu, persoalan mendasar lainnya yang turut disoroti adalah kondisi infrastruktur irigasi di wilayah Kelurahan Maccirinna yang dinilai sangat memprihatinkan. Petani menyebut, jaringan irigasi di daerah tersebut belum pernah tersentuh bantuan perbaikan, baik dari pemerintah daerah maupun kementerian terkait.
“Irigasi di sini dari zaman Belanda sampai sekarang tidak pernah diperbaiki. Tidak pernah ada bantuan yang menyentuh,” ungkap Amus.
Menurutnya, kondisi irigasi yang tidak memadai menjadi salah satu faktor utama yang memicu terjadinya gagal panen. Petani kesulitan mengatur distribusi air, terutama saat musim kemarau maupun saat curah hujan tidak menentu.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa para petani tidak membenci PPL, melainkan berharap adanya perubahan dalam pola pendampingan ke depan.
“Kami tidak benci PPL, tapi kami sering ditinggalkan saat menghadapi masalah seperti gagal panen ini,” tegasnya.
Keluhan serupa juga disampaikan petani di Kecamatan Lanrisang inisial RM yang mengalami nasib sama. Mereka berharap pemerintah daerah segera turun tangan mengevaluasi program swasembada pangan secara menyeluruh, termasuk memperbaiki infrastruktur irigasi dan meningkatkan peran aktif PPL di lapangan.
Para petani meminta agar program tidak hanya berhenti pada tahap sosialisasi, tetapi juga diikuti dengan pendampingan intensif serta solusi nyata terhadap persoalan yang mereka hadapi, mulai dari produksi hingga pemasaran hasil pertanian.
Situasi ini menjadi peringatan serius bagi pemerintah Kabupaten Pinrang untuk memastikan program swasembada pangan benar-benar berjalan efektif dan berpihak kepada petani sebagai ujung tombak sektor pertanian (A&T).






