MAKASSAR, BESTNEWS – Di balik dinding tebal dan jeruji besi Rutan Makassar, sebuah kisah lama tentang utang piutang kembali mencuat ke permukaan bukan sekadar angka, melainkan cerita tentang kepercayaan yang retak dan janji yang tak kunjung ditepati.
Adi, seorang warga binaan yang kini menghuni Blok F, kamar 11, menjalani hari-harinya dengan rutinitas yang nyaris seragam. Namun di balik keterbatasan ruang dan waktu itu, tersimpan beban lain yang tak kalah berat utang sebesar Rp20 juta rupiah yang hingga kini masih menjadi bayang-bayang dalam hidupnya.
Kisah ini bermula jauh sebelum Adi menginjakkan kaki di rumah tahanan. Saat itu, dalam situasi yang penuh tekanan ekonomi, Adi disebut meminjam sejumlah uang dari seorang kerabatnya. Awalnya, hubungan keduanya dilandasi rasa saling percaya. Tak ada jaminan tertulis, tak ada saksi resmi hanya keyakinan bahwa janji akan ditepati.
“Namun waktu berjalan, dan janji itu perlahan memudar, “jelas Keluarga nya yang diketahui berinisial D melalui via telepon, Selasa, 14 April 2026
Rp20 juta yang dulu dianggap sebagai solusi, kini berubah menjadi sumber persoalan. Komunikasi yang semula cair berubah menjadi renggang. Upaya penagihan disebut telah dilakukan berulang kali, namun berujung tanpa kepastian. Situasi semakin rumit ketika Adi harus berurusan dengan hukum dan akhirnya mendekam di dalam tahanan.
Di dalam Blok F kamar 11, persoalan utang itu tidak serta-merta hilang. Justru, ia menjadi cerita yang terus berulang, dibicarakan di antara sesama warga binaan, bahkan hingga ke pihak keluarga di luar. Ada yang menyebut ini sebagai bentuk kelalaian, ada pula yang melihatnya sebagai potret kesulitan hidup yang berlapis.
Sejumlah pihak menilai, kasus utang piutang seperti ini sering kali bermula dari kepercayaan yang terlalu sederhana tanpa penguatan hukum yang jelas. Ketika masalah muncul, tak ada pegangan kuat yang bisa dijadikan dasar penyelesaian.
Sementara itu, keluarga pihak pemberi pinjaman dikabarkan masih berharap adanya itikad baik untuk menyelesaikan kewajiban tersebut. Di sisi lain, kondisi Adi di dalam tahanan disebut menjadi salah satu kendala utama dalam proses pelunasan.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik angka Rp20 juta, terdapat relasi manusia yang kompleks tentang harapan, kepercayaan, dan konsekuensi. Di ruang sempit Blok F kamar 11, cerita itu terus hidup, menunggu akhir yang hingga kini belum menemukan titik terang (707).











