SEJARAH SULSEL “NAIK KELAS”! Bandara Sultan Hasanuddin Sulap Ruang Publik Jadi Panggung Warisan Budaya

MAROS, BESTNEWS — Bandara Internasional Sultan Hasanuddin tak hanya menjadi pintu gerbang perjalanan udara, tetapi kini juga menghadirkan pengalaman baru bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat sejarah dan kekayaan budaya Sulawesi Selatan.

Melalui kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan, Bandara Sultan Hasanuddin menghadirkan Pameran Museum Temporer yang berlangsung pada 7 hingga 16 Agustus 2026.

Pameran tersebut menghadirkan tiga museum sekaligus, yakni Museum Mandala, Museum La Galigo, dan Museum Karaeng Pattingalloang. Ketiganya hadir membawa cerita perjalanan sejarah serta warisan budaya Sulawesi Selatan lebih dekat kepada masyarakat dan para pengguna jasa bandara.

Kehadiran museum di ruang publik bandara menjadi warna baru. Para penumpang tidak hanya menunggu jadwal penerbangan, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk belajar, mengenal sejarah, sekaligus menyelami identitas budaya Sulawesi Selatan (11/08/2026).

Tak berhenti pada pameran, kegiatan ini turut dilengkapi photobooth bersama tokoh pahlawan dan lomba mewarnai. Aktivitas tersebut dirancang sebagai ruang interaksi edukatif dan kreatif agar nilai-nilai sejarah serta budaya dapat diperkenalkan dengan cara yang lebih menarik.

General Manager Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Ruly Artha, menyebut pameran museum temporer di lingkungan bandara sebagai sebuah terobosan baru di Sulawesi Selatan.

Menurutnya, bandara memiliki potensi besar untuk menjadi ruang yang memperkenalkan sejarah, budaya dan pariwisata daerah kepada masyarakat luas.

“Dengan sekitar 27 ribu pengguna jasa yang beraktivitas setiap harinya, tentu terdapat peluang besar untuk memperkenalkan potensi daerah kepada masyarakat yang lebih luas,” ujar Ruly.

Ruly juga menegaskan keterbukaan Bandara Sultan Hasanuddin terhadap kolaborasi dengan pemerintah, akademisi, komunitas maupun berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Kolaborasi tersebut diharapkan mampu membangun ekosistem yang menghubungkan transportasi, pariwisata, kebudayaan dan edukasi dalam satu ruang yang dapat dinikmati masyarakat.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan, Hj. Andi Mirna, S.H., M.A.P., memberikan apresiasi atas kolaborasi tersebut.

Ia menilai kehadiran museum di ruang publik bandara menjadi sarana edukasi untuk mengenalkan sejarah dan warisan budaya Sulawesi Selatan kepada masyarakat maupun wisatawan.

“Kolaborasi ini membuktikan bahwa fasilitas publik modern dapat berjalan seiring dengan upaya pelestarian budaya lokal dan promosi pariwisata,” ujar Andi Mirna.

Apresiasi serupa disampaikan Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Provinsi Sulawesi Selatan, Melani Simon Jufri. Menurutnya, bandara merupakan salah satu gerbang utama bagi wisatawan domestik maupun mancanegara sehingga menjadi ruang strategis untuk memperkenalkan kekayaan sejarah dan budaya Sulawesi Selatan.

Pameran ini sekaligus membawa museum keluar dari ruang konvensionalnya. Museum Mandala, Museum La Galigo dan Museum Karaeng Pattingalloang kini hadir di tengah aktivitas perjalanan masyarakat, menjadikan perjalanan di bandara sebagai kesempatan untuk mengenal identitas dan warisan budaya Sulawesi Selatan.

Pameran Museum Temporer tersebut masih berlangsung hingga 16 Agustus 2026 di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin dan dapat dinikmati oleh pengguna jasa maupun masyarakat, lengkap dengan berbagai aktivitas edukatif dan interaktif.

Dari ruang tunggu menuju ruang pengetahuan, Bandara Sultan Hasanuddin menunjukkan bahwa perjalanan bukan hanya soal pergi dan tiba tetapi juga tentang mengenal sejarah, budaya dan jati diri daerah yang menjadi tuan rumah (707).