MAKASSAR, BESTNEWS – Angin perubahan berhembus perlahan dari ufuk Timur. Di sela hiruk-pikuk agenda di Makassar, sebuah keteguhan meluncur dari lisan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz. Sang kiai mengisyaratkan kesiapannya untuk turun gelanggang dalam kontestasi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Bukan sekadar mengejar kursi mahkota, ia datang membawa napas sejarah.
“Kehadiran saya di Makassar, pertama adalah merajut silaturahmi. Yang kedua, saya mengenalkan buku Qanun Asasi,” ujar Kiai yang akrab disapa Gus Kikin ini, berdiri tenang di tengah kepungan mikrofon awak media.
Membangunkan Kembali Mahakarya 1926
Bagi Kiai Hakim, Qanun Asasi bukanlah sekadar literatur usang. Ia adalah pedoman dasar, roh, sekaligus kompas pergerakan yang dirumuskan langsung oleh sang pendiri, Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari pada periode 1926 hingga 1929.
Misi utamanya sederhana diucapkan, namun agung dalam pelaksanaan: mengaplikasikan kembali aturan dasar tersebut di tubuh Nahdlatul Ulama.
“Supaya NU nanti itu jadi guyub, jadi adem, jadi ayem, tentrem,” tegasnya dengan tatapan teduh. Ia mengenang bagaimana masa lampau ketika pedoman ini dipegang teguh, kekeluargaan di tubuh NU begitu luar biasa, yang imbasnya menjadikan Indonesia sebagai negeri yang aman dan sentosa.
“Lha kok tiba-tiba ditinggal? Lha itu,” imbuhnya memantik kesadaran kolektif nahdliyin.
Khidmat, Bukan Nikmat
Kabar angin menyebutkan bahwa ratusan dukungan dari pengurus wilayah dan cabang telah mengalir deras menuju bumi Tebuireng. Namun, arus politik itu tak membuat Sang Kiai jemawa. Baginya, takhta kepemimpinan adalah soal amanah langit dan keridaan bumi.
“Waduh, saya tidak menghitung itu. Kalau mau dipilih ya silakan saja. Kesiapannya siap. Kalau ditunjuk siap, kalau tidak dipilih ya saya tidak apa-apa,” jawabnya lepas, seolah melepaskan beban ambisi duniawi.
Ketika ditanya lebih jauh soal kesiapannya menahkodai PBNU, kalimat yang keluar dari lisannya menggetarkan makna kepemimpinan itu sendiri.
“Siap. Namanya berkhidmat di NU itu ya berkhidmat. Bukan jadi pemimpin di NU itu terus menikmati. Khidmat itu tanggung jawab kepada umat,” pungkasnya.
Sebuah deklarasi sunyi namun bertenaga dari Makassar. KH Abdul Hakim Mahfudz tak sekadar menawarkan diri sebagai calon pemimpin, melainkan menawarkan rute jalan pulang mengajak kapal besar Nahdlatul Ulama kembali berlabuh pada muruah asalnya (707).
Tags: #NahdlatulUlama #PBNU #MuktamarNU #KHAbdulHakimMahfudz #PesantrenTebuireng #QanunAsasi #Makassar #BeritaNU












