PINRANG, BestNews19.com – Dimasa pandemi sekarang ini semua kabupaten kota pasti terdampak, olehnya itu di butuhkan strategi, komitmen dan kepedulian masing- masing pimpinan daerah dalam perencanaan penganggaran agar pembangunan di daerah masing masing tetap bisa berjalan.
Strategi dan komitmen masing masing pimpinan Daerah tersebut tentunya akan tergambar di dalam batang tubuh APBD.
“Seperti di ketahui bahwa lima kabupaten/kota yang ada di wilayah Ajatappareng telah melakukan perubahan APBD Tahun Anggaran 2021, untuk melakukan penyesuaian terhadap rencana pendapatan daerah maupun anggaran belanjanya.” demikian ungkap Yusti yang di hubungi awak media. Senin (27/09/2021).
Lanjut yusti bahwa, “dengan mencermati angka-angka dalam batang tubuh APBD perubahan 2021 masing – masing daerah, maka nampak jelas bahwa Kabupaten Pinrang merupakan kabupaten yang paling buruk dalam perencanaan penganggarannya dari lima kabupaten kota yang ada di Ajatappareng.”
Betapa tidak dari jumlah belanja daerah yang direncanakan kurang lebih sebesar Rp 1,4 trilyun Kabupaten Pinrang hanya mampu mengalokasikan belanja modal sebesar Rp.183 Milyar, artinya belanja modal turun sebesar Rp. 83 Milyar.” Tutur Yusti.
“Jika di bandingkan dengan kotamadya Pare Pare kata Yusti, yang ditengah keterbatasan belanjanya yang hanya Rp.1,25 Trilyun, justru mampu menambah belanja modalnya sebesar Rp.37 Milyar, sehingga menjadi Rp.242 Milyar.”
“Sedangkan untuk Kabupaten Sidrap dari Rp.1.25 Trilyun jumlah belanjanya justru mampu mengalokasikan sebesar Rp.270 Milyar untuk belanja Modal.” Tambahnya.
Lanjut kata Yusti, demikian pula dengan Kabupaten Barru, yang menyadari kemampuan keuangan daerahnya, maka Kabupaten Barru telah melakukan efesiensi belanja dengan melakukan pengurangan terhadap belanja Operasinya sehingga menjadi Rp.720 Milyar atau berkurang sebesar Rp.24, 289 Milyar.”
Berbeda dengan Kabupaten Pinrang, yang sudah tau kalau pendapatannya berkurang justru gila gilaan menambah belanja operasinya sebesar Rp.12 Milyar lebih sehingga menjadi Rp.1,297 Trilyun, padahal kita tau bahwa belanja operasi itu habis di seputar aparatur dan tidak memberi dampak langsung kepada kepentingan masyarakat.” Tegas Yusti.
Ditanya perbandingan dengan Kabupaten Enrekang, Yusti menyampaikan bahwa tidak elok membandingkan Pinrang dengan Enrekang yang dapat dana PEN, karena jelas kesenjangan belanja modalnya akan jauh berbeda.”
Dari ilustrasi rencana belanja tersebut, tentu memberi gambaran kepada kita bahwa betapa buruknya perencanaan anggaran yang ada di Kabupaten Pinrang, hal ini juga sekaligus membuktikan betapa lemahnya komitmen dan kepedulian Bupati A.Irwan Hamid terhadap kepentingan dan kebutuhan masyarakat Pinrang.” kunci yusti (D-Ajeng).






