oleh

Muhammad Aras, Dimata Sang Jenderal

–Sambutan Hangat–
Selepas menunaikan shalat Maghrib, Muhammad Aras yang tiba di rumah asri nan sejuk milik Sang Jenderal selesai melaksanakan agenda reses di Kabupaten Soppeng itu, disambut dengan penuh rasa kekeluargaan, disuguhi cita rasa menu malam khas Soppeng, barobbo, roti berre dan pallubutung. Sungguh nikmat sajian hasil karya istri Sang Jenderal.

Sajian yang melengkapi indahnya pertemuan dua putra terbaik yang sama-sama lahir di Kota Kalong, Soppeng.

–Cerita Masa Lalu–
Berbagi kisah masa lalu menjadi bagian percakapan obrolan santai yang sarat akan makna. Kisah perjalanan mengejar pendidikan ditengah keterbatasan.

Bermodalkan semangat dan dukungan orang tua menjadi satu kekuatan untuk mencapai tingkap keberhasilan tahap demi tahap dalam merubah status sosial di masyarakat. Memiliki keyakinan bahwa pendidikan pada akhirnya akan membuahkan nilai yang besar di masa yang akan datang. Menempuh perjalanan hidup dengan sebuah tekad dan kesungguhan bahwa fokus dalam belajar mampu membuka cakrawala dunia.

Meski keduanya terpaut usia 11 tahun, Muhammad Aras yang terbilang lebih muda dari Sang Jenderal itu ternyata memiliki kesamaan pola pikir yang visioner. Ketika pendidikan sudah dicapai dengan sangat baik, maka tugas selanjutnya ialah bagaimana ia dapat mengoptimalkan semua potensi dan sumber daya yang ada untuk seluruhnya dicurahkan sebaik-baiknya kepada masyarakat. Prinsip dasar dalam hidup “Khairunnas anfa’uhum linnas (Sebaik-baiknya manusia ialah mereka yang memiliki manfaat bagi manusia lainnya, menjadi tolak ukur ikhtiarnya.

Perkembangan zaman terus melaju, bahkan terkadang tidak beriringan dengan kondisi masyarakat di setiap masanya. Masih banyak diantara masyarakat yang perlu mendapatkan uluran tangan sesama. Dukungan moral maupun spiritual masih perlu diupayakan oleh orang-orang yang memiliki potensi.

–Sosok yang sama seperti beberapa tahun yang lalu–
Sang Jenderal, sedikit mengingat-ingat sosok Muhammad Aras diwaktu dulu, dimana ia adalah seorang penjahit yang berhasil “mengukur” pakaian hingga para tokoh negeri, yang secara bertahap dengan kemampuan komunikasi, diplomasi dan ketekunan yang dimiliki, ia berhasil mencapai tahap klimaks sebagai pengusaha jahit di Sulawesi Selatan. Tidak ada yang tidak mengenal “Emerald” miliknya. Kualitas dan komitmen dalam berbisnis mampu dipertahankan hingga kini. Kerja keras yang tidak pernah mengkhianati hasil.

Diskusi-diskusi kecil sering ia bangun dengan Sang Jenderal sejak dulu, meminta nasihat dan wejangan seolah sudah menjadi kebiasaan baginya. Dimasa purnanya, sosok Sang Jenderal merupakan guru politik sekaligus guru kehidupan bagi Muhammad Aras. Hubungan yang tercipta layaknya orang tua dan anak.

Pesan utama yang terucap darinya dikala mengenang seorang Muhammad Aras sebelum menjadi wakil rakyat di DPR RI ialah jangan pernah merubah karakter ulet, bijaksana, sikap legowo dan yang paling penting sabar dalam menghadapi setiap persoalan harus senantiasa ditancapkan. Karena menurut Sang Jenderal, sebagai seseorang yang memilih karir politiknya di PPP yang sarat akan nilai-nilai agama harus dijadikan sebagai pedoman hidup.

–Amanah Sang Jenderal–
Sebagai orang yang dituakan, Sang Jenderal dengan terbuka berbagi pengalaman, menjelaskan bahwa saat ini pribadinya hanya ingin fokus mengisi hari-harinya dengan kebersamaan bersama keluarga. Menikmati sisa-sisa perjuangan setelah sekian lama ia abdikan kepada negara.

Sebagai mantan Kapolda Sulawesi Selatan dan Barat tahun 2013 lalu, ia telah menorehkan segudang prestasi bagi bangsa. Menjunjung tinggi moralitas dan tanggung jawab terhadap setiap amanah yang diberikan adalah prinsip hidupnya.

Sang Jenderal berpesan bahwa Muhammad Aras yang saat ini mendapat mandat dari masyarakat di dapilnya sebagai Anggota DPR RI dari Fraksi PPP, harus benar-benar mampu memanfaatkan sumber daya yang dimiliki demi kepentingan rakyatnya. Ia harus mampu melakukan sentuhan-sentuhan langsung yang bukan hanya sekedar materiil semata, karena diantara masyarakat sekitar kita masih banyak pula yang berharap kehadiran wakil rakyatnya mampu mendengar dan menjadi solusi bagi setiap masalahnya.

Tidak hanya untuk mencapai target-target politis. Kesungguhan dari hasil kerja nyata kepada masyarakat, tentu dengan sendirinya akan membuka peluang karir yang lebih besar sehingga apabila mandat rakyat itu berlanjut, bukan suatu hal yang mustahil apabila seorang Muhammad Aras bisa melanjutkan karirnya sebagai wakil rakyat. Bahkan bisa lebih baik dari sebelumnya.

Diakhir perbincangan yang inspiratif, Sang Jenderal optimis bahwa sebagai seorang politisi, Muhammad Aras yang berasal dari partai yang mengusung asas agama sebagai landasan gerakan mampu menjadi “influencer” dalam menangkal faham-faham intoleran, yaitu faham-faham yang bertolak belakang dengan adat istiadat kebhinekaan, khususnya di daerah pemilihannya yang meliputi Bulukumba, Maros, Soppeng, Bone, Pangkep, Barru, Parepare, Wajo, dan Sinjai.

Rasa cinta yang sesungguhnya seorang wakil rakyat kepada masyarakat, tidak bisa hanya dengan janji ataupun retorika semata, namun demikian ia harus mampu membuktikannya dengan kerja nyata, diantaranya yaitu mendukung percepatan pembangunan infrastruktur di daerah pemilihannya terutama di desa-desa, membantu mewujudkan pendidikan Pondok Pesantren yang kompetitif sebagai basis perjuangan umat. Dan tak kalah penting dasar dari perjuangannya adalah mampu mengutamakan kepentingan masyarakat banyak diatas kepentingan pribadinya.

Catatan Silaturahmi Dr. H. Muhammad Aras,S.Pd.,M.M bersama Irjen. Pol. (Purn.) Dr. Burhanuddin Andi, S.H., M.H. (lahir 26 April 1959) adalah seorang Purnawirawan perwira tinggi Polri yang sebelumnya menjabat Kakors Ahli Kapolri. (Selasa, 26 Oktober 2021)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed