PINRANG, BESTNEWS – Momentum bersejarah tercipta di Institut Cokroaminoto Pinrang. Prof. Dr. H. Muhammad Masdar, S.Pd., M.Pd resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Sosiologi Politik, sebuah capaian akademik tertinggi yang tidak hanya menjadi kebanggaan institusi, tetapi juga dunia pendidikan dan masyarakat Pinrang secara luas.
Dalam prosesi pengukuhan yang berlangsung khidmat, Prof. Muhammad Masdar membacakan orasi ilmiah berjudul “Dari Konfrontasi ke Koalisi: Analisis Interaksionis Simbolik atas Negosiasi Kepentingan dalam Politik.” Orasi tersebut menjadi refleksi mendalam atas dinamika politik Indonesia yang kerap diwarnai konflik, polarisasi, dan tarik-menarik kepentingan.
Dengan pendekatan interaksionisme simbolik, Prof. Masdar menegaskan bahwa politik sejatinya bukan sekadar arena perebutan kekuasaan, melainkan ruang komunikasi simbolik yang menuntut pemahaman, empati, dan kesadaran kolektif. Menurutnya, konflik politik seringkali lahir bukan semata karena perbedaan kepentingan, tetapi akibat kegagalan aktor politik dalam membaca makna, simbol, dan bahasa sosial yang berkembang di tengah masyarakat (15/01/2026).
“Ketika politik hanya dibaca sebagai konfrontasi, maka yang lahir adalah keterbelahan. Namun ketika politik dipahami sebagai proses negosiasi simbolik, koalisi dan kesepahaman menjadi mungkin,” tegas Prof. Masdar dalam orasinya.
Ia menekankan pentingnya peran akademisi dan institusi pendidikan tinggi sebagai penjaga nalar publik, terutama di tengah situasi politik yang semakin pragmatis dan transaksional. Kampus, kata dia, tidak boleh terjebak dalam menara gading, tetapi harus hadir sebagai ruang produksi gagasan yang mencerahkan dan menyejukkan kehidupan berbangsa.
Pengukuhan ini sekaligus menandai kontribusi panjang Prof. Muhammad Masdar dalam dunia pendidikan dan kajian sosial-politik. Dedikasinya tidak hanya tercermin dalam karya akademik, tetapi juga dalam konsistensinya membangun kesadaran kritis mahasiswa dan masyarakat terhadap pentingnya etika, dialog, dan nilai kemanusiaan dalam praktik politik.
Bagi Institut Cokroaminoto Pinrang, pengukuhan Guru Besar ini menjadi penguat peran kampus sebagai pusat pengembangan ilmu sosial yang responsif terhadap realitas masyarakat. Sementara bagi publik, orasi Prof.
Masdar menjadi pesan moral bahwa masa depan demokrasi Indonesia tidak ditentukan oleh kerasnya konfrontasi, melainkan oleh kedewasaan dalam membangun koalisi berbasis pemahaman dan kepentingan bersama.
Pengukuhan Prof. Dr. H. Muhammad Masdar bukan sekadar capaian akademik personal, tetapi simbol harapan bahwa ilmu pengetahuan tetap memiliki tempat strategis dalam membimbing arah politik dan kehidupan sosial bangsa (707).






