PINRANG, BESTNEWS – Tidak ada capaian besar yang lahir dari perjalanan sunyi tanpa doa. Di balik pengukuhan Prof. Dr. H. Muhammad Masdar, S.Pd., M.Pd sebagai Guru Besar dalam Bidang Sosiologi Politik Institut Cokroaminoto Pinrang, Kamis 15 Januari 2025, tersimpan kisah panjang tentang ketekunan, pengabdian, dan kekuatan doa keluarga yang tak pernah putus.
Pengukuhan tersebut bukan sekadar seremoni akademik, melainkan penanda puncak perjalanan intelektual seorang anak bangsa yang menapaki dunia pendidikan dengan kesabaran dan konsistensi. Bertahun-tahun mengabdikan diri sebagai pendidik dan peneliti, Prof. Masdar akhirnya berdiri di titik tertinggi karier akademik sebuah capaian yang hanya dapat diraih melalui kerja keras luar biasa (15/01/2026).
Namun, di balik toga dan gelar kehormatan itu, Prof. Muhammad Masdar dengan rendah hati mengakui bahwa keberhasilannya tidak berdiri sendiri. Doa, dukungan moral, serta pengorbanan keluarga menjadi energi utama yang terus menguatkan langkahnya, terutama di saat-saat terberat dalam perjalanan akademik.
“Tidak ada keberhasilan yang benar-benar personal. Di balik pencapaian ini ada keluarga yang setia mendampingi, mendoakan tanpa lelah, dan menguatkan ketika semangat hampir runtuh,” ungkapnya dengan suara penuh haru.
Istri, anak-anak, serta keluarga besar menjadi sandaran utama, menyertai setiap proses panjang mulai dari riset, publikasi ilmiah, hingga perjuangan administratif menuju gelar profesor.
Dukungan itu bukan hanya bersifat emosional, tetapi juga menjadi pengingat akan tanggung jawab moral seorang akademisi terhadap ilmu pengetahuan dan masyarakat.
Pengukuhan Prof. Muhammad Masdar sebagai Guru Besar sekaligus menjadi kebanggaan tersendiri bagi Institut Cokroaminoto Pinrang, menegaskan komitmen kampus tersebut dalam melahirkan ilmuwan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kedalaman nilai dan integritas.
Lebih dari sekadar gelar, capaian ini menjadi inspirasi bagi generasi muda, khususnya di Pinrang dan Sulawesi Selatan, bahwa ilmu, ketekunan, dan doa keluarga adalah kombinasi kuat untuk menembus batas dan mengukir sejarah.
Di hari bersejarah itu, pengukuhan Guru
Besar bukan hanya milik Prof. Muhammad Masdar semata, tetapi juga milik keluarga yang setia di belakang layar yang diam-diam menjadi kekuatan terbesar dalam perjalanan menuju puncak pengabdian akademik (707).






