UNM Bekali Warga Gunung Sari Jurus Deteksi Pinjol Ilegal, Lindungi Data dan Finansial

MAKASSAR, BESTNEWS — Sekali klik, uang bisa cair. Namun, di balik kemudahan itu, bisa saja tersembunyi jerat utang, bunga yang mencekik, hingga ancaman penyalahgunaan data pribadi. Pinjaman online atau pinjol kini bukan sekadar soal cepat mendapatkan dana, tetapi juga tentang seberapa cerdas masyarakat membaca risiko di balik layar digital (31/08/2026).

Persoalan inilah yang mendorong Tim Pengabdi Universitas Negeri Makassar (UNM) turun langsung ke tengah masyarakat melalui program “Penguatan Literasi Digital Masyarakat dalam Mengidentifikasi Pinjaman Online Legal dan Ilegal untuk Meningkatkan Keamanan Finansial”. Kegiatan tersebut berlangsung Sabtu, 22 Agustus 2026, di RT 01/RW 07, Kelurahan Gunung Sari, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar.

Program ini digawangi tiga akademisi UNM, yakni Ayu Hasnining, S.Kom., M.Kom., Dr. Haekal Febriansyah Ramadhan, S.T., M.Pd., M.T., dan Muh. Ihsan Zulfikar, S.Pd., M.Pd. Mereka membawa satu pesan utama: masyarakat harus menjadi pengguna teknologi finansial yang cerdas, bukan sekadar pengguna yang tergoda oleh iming-iming dana instan.

Di tengah masyarakat digital, kemampuan membedakan pinjol legal dan ilegal menjadi semacam “sabuk pengaman” finansial. Sebab, tidak semua platform yang menawarkan pinjaman melalui telepon genggam memiliki mekanisme perlindungan konsumen yang memadai. Kesalahan memilih layanan dapat berujung pada beban finansial berkepanjangan, kebocoran data, bahkan praktik penagihan yang meresahkan.

Karena itu, peserta tidak hanya diberikan pengetahuan secara teoritis. Mereka diarahkan agar mampu melakukan identifikasi dan verifikasi secara mandiri sebelum menggunakan sebuah layanan pinjaman online. Dengan bekal tersebut, masyarakat diharapkan tidak lagi mudah terpancing oleh tawaran pinjaman yang terlihat menggiurkan, tetapi justru mampu bertanya lebih jauh: siapa penyelenggaranya, bagaimana legalitasnya, apa risikonya, dan bagaimana perlindungan terhadap data pribadi pengguna.

Yang menarik, edukasi tersebut tidak berhenti ketika kegiatan selesai. Tim Pengabdi turut menyiapkan website pendamping sebagai ruang belajar digital yang dapat dimanfaatkan masyarakat secara berkelanjutan. Kehadiran platform ini menjadi penting agar pengetahuan yang diperoleh tidak menguap setelah pelatihan berakhir, tetapi dapat terus diakses ketika masyarakat menghadapi tawaran pinjaman online di kemudian hari.

Bagi mahasiswa, kegiatan ini menjadi laboratorium pembelajaran yang nyata. Mereka tidak hanya berhadapan dengan teori dan konsep di ruang akademik, tetapi melihat langsung bagaimana literasi digital berhadapan dengan kebutuhan, kebiasaan, dan persoalan masyarakat. Pengalaman lapangan tersebut sekaligus menjadi bagian dari kontribusi terhadap pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi.

Bagi UNM, pengabdian ini menjadi bukti bahwa perguruan tinggi tidak boleh berdiri sebagai menara gading yang jauh dari denyut persoalan masyarakat. Ilmu pengetahuan harus menemukan jalannya menuju ruang-ruang kehidupan. Melalui artikel ilmiah, HKI, publikasi, serta penguatan kemitraan dengan masyarakat, kegiatan ini diharapkan melahirkan jejak akademik sekaligus dampak sosial yang berkelanjutan.

Lebih luas lagi, penguatan literasi digital dan keamanan finansial memiliki resonansi dengan agenda pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama dalam aspek pendidikan berkualitas dan inklusi ekonomi. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi juga menjadi bagian dari arah pengembangan riset nasional bidang TIK, ketika teknologi tidak hanya dipandang sebagai alat, tetapi sebagai instrumen untuk memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi perubahan zaman.

Dari Gunung Sari, pesan yang dibawa sederhana tetapi tajam: jangan biarkan kebutuhan sesaat membuat masyarakat menyerahkan masa depan finansial kepada platform yang tidak jelas. Di era ketika pinjaman dapat ditawarkan hanya melalui layar ponsel, literasi adalah pertahanan pertama, verifikasi adalah langkah kedua, dan kehati-hatian menjadi kunci. Sebab, di balik satu tombol “ajukan pinjaman”, bisa tersimpan konsekuensi panjang yang baru terasa ketika semuanya sudah terlambat (707).