PAREPARE, BestNews19.com – Fatayat Nahdatul Ulama (NU) Kota Parepare, melaksanakan wisuda pertama kepada 14 santri, santriwati tahfidzul qur’an (ITQ) K.H Abdul Hakim Lukman, di Lagota Cafe and Resto, Jalan Jendral Ahmad Yani, Kelurahan Ujung Baru, Kecamatan Soreang, Kota Parepare, Rabu, 20 Oktober 2021.
Hadir, ketua Pimpinan Cabang (PC) Nahdatul Ulama Kota Parepare, Dr Kiyai Hannani, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Fatayat NU Sulawesi Selatan, Ketua Laziznu Kota Parepare, Ustadz Shodiq, Badan Otonom NU, dan orang tua santri santriwati. Pelaksanaan dilaksanakan secara protokol kesehatan.
Ketua Fatayat NU Kota Parepare, Maryam B mengatakan, wisuda santri pertama dilaksanakan setiap enam bulan sekali, sebagai tolak ukur keberhasilan pengapalan juz Alquran. Prosesi wisuda juga sebagai rangkaian menyambut hari santri nasional jatuh 22 Oktober.
“Insya Allah kita akan laksanakan setiap satu kali semester yakni enam bulan sekali. Santri santriwati yang wisuda pertama ini yakni yang telah menyelesaikan satu, dua juz. Ada yang juz 30 dan juz satu, ada juz 29 dan juz 30, ada juga yang hanya juz 30,” tuturnya.
Pada wisuda tersebut, kata dia memilih santri santriwati terbaik, yang dipilih berdasarkan akhlak, penghapalan selama proses belajar. Ia berharap, wisudawan selanjutnya akan bertambah.
ketua PC Nahdatul Ulama Kota Parepare, Dr Kiyai Hannani, berharap wisudawan wisudawati tidak puas hingga satu dua juz, tetapi dapat menambah hafalannya hingga 30 juz.
“Bisa melanjutkan hafalannya, bukan hanya satu, dua juz. Diharapkan sampai hatam 30 juz. Semoga Allah memberikan kemudahan dan kesabaran untuk anak-anak menghafal,” jelas Kiyai Hannani yang juga selaku ketua Tahfidzul Qur’an NU Kota Parepare. (ana)
Ujian munaqasyah dilaksanakan di ruang terbuka, Taman Mattirotasi, Kecamatan Ujung Kota Parepare, Jumat, 15 Oktober 2021.
Ketua Fatayat NU Kota Parepare mengatakan, sebanyak 14 santri, santriwati mengikuti ujian, dengan pengapalan satu dan dua juz. Diantaranya juz, 1, juz 30, dan juz 29.
“Ada yang ambil juz 29, ada juga santri yang mengambil juz 1 setelah menyelesaikan juz 30. Dari 14 anak, ada lima orang yang menyelesaikan dua juz, sisanya satu juz,” ungkapnya.
Seorang ustadzah, yang melakukan ujian kepada santri, santriwati angkatan pertama tahfidzul qur’an (ITQ) KH Abdul Hakim Lukman, binaan Fatayat NU, Nasli Paris menerangkan, proses untuk lanjut ke jenjang wisuda harus mengikuti dua tahapan, yakni, simaan dan munaqasyah.
“Tiga minggu terakhir ujiannya simaan. Dimana simaan ini, satu kali duduk santri, santriwati menyelesaikan hafalan mereka, dari yang menghafal satu juz dan dua juz,” jelasnya.
Ia melanjutkan, pada ujian munaqasyah, mulai dari sambung ayat, hingga melafalkan surah secara acak, dengan menyebutkan nama-nama surah. Dengan kriteria penilaian, yakni tajwid, kefasihan, dan tartil.
“Bagi yang rendah nilainya di ujian terakhir ini, maka akan lulus secara bersyarat,” ungkapnya..
Ia berharap santri, santriwati yang telah menyelesaikan satu hingga dua juz bisa mengaplikasikan di lingkungan masyarakat. Selain itu, ia meminta agar mereka tidak berpuas diri, selalu menambah hafalan. Hingga bisa menjadi Tahfidzul qur’an 30 juz. (v-sanji).






