oleh

Kader HMI Cabang Pinrang Haidir Ali, HMI Tidak Menarik Lagi

PINRANG, BESTNEWS19.COM – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai organisasi pertama dan terbesar di Indonesia yang di prakarsai oleh Kakanda Lafran Pane dan kawan kawan, tepat pada 5 Februari 1947 menjadi hari kelahirannya, dalam perjalanannya telah banyak mencetak pemimpin-pemimpin umat dan bangsa.

Namun, seiring berjalannya waktu rupanya terus mengalami kemunduran atau degradasi cukup signifikan baik dari aspek pergerakan maupun perkaderan.

Larut dalam conflict of interest (konflik kepentingan) dari Pengurus Besar hingga Akar rambut yakni komisariat adalah fakta yang tidak bisa kita Nafikkan, hal inilah pula yang mengganggu dan mengancam jalannya proses perkaderan.

Sehingga berdampak pada rapuhnya kondisi internal dan tidak mampu merespon kondisi eksternal sebagai solutor problematika keumatan dan kebangsaan, sehingga tidak berlebihan bila HMI tidak menarik lagi oleh para mahasiswa untuk tempat menempa diri. (10/08/2022).

Bergelimang konflik di antara mereka, menghalalkan segala cara, larut dalam kebesaran sejarah “jualan nama senior”, hingga sering kali lalai dalam tugas pokoknya sebagai hamba adalah stigma yang disematkan padanya, kira-kira seperti itulah pandangan terhadap HMI di kampus-kampus terhadap perilaku kader – kadernya dan itu pulalah yang lagi-lagi membuatnya tidak menarik lagi.

Bila melihat tujuan HMI sungguh begitu luhur “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT” (pasal 4 AD HMI), dari sini terlihat bahwa ketidak menarikan itu pun terjadi dari dalam internal sebab nyata nilai-nilai di atas tidak lagi menjadi orientasi apa lagi membumi dalam diri kader-kader HMI.

Selain itu from tertinggi HMI yakni Kongres kita tidak menemukan lagi pikiran-pikiran besar untuk membesarkan HMI dan Kemajuan Ummat dan Bangsa yang di hasilkan dari pertemuan besar itu, yang ada adalah sahwat merebut kekuasaan yang dihadirkan dan begitu ditonjolkan sehingga diskusinya berapa cabang yang dibawa, berapa Romli yg gerakan berapa dan berapa yg mewarnai panggung besar itu.

Meramu startegi dan taktik atas kemunduran-kemunduran HMI tidak menjadi pembahasan yang dikedepankan, dan itu tidak terjadi hanya di level kongres tapi sampai ke from rak.

Ketik menarikan ini hanya bisa di sudah bila dalam tubuh HMI yang haus kekuasaan atau aktor-aktor dualisme ini sudah tidak ada lagi kemudian kembali fokus pada peningkatan kualitas perkaderan.

Sehingga dapat menghasilkan nahkoda atau Ketua Umum baik level Komisariat hingga PB HMI yang benar-benar mampu menjadi pemimpin bagi semua, bukan hanya kelompok tertentu, apa menjadi ijon oligarki dan penguasa yang tidak memiliki spirit Kebangsaan dan Keumatan dalam dirinya (Rls/*).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *