GOWA, BESTNEWS — Dinamika internal di dalam lingkaran keluarga besar Kerajaan Gowa belakangan ini kembali menghangat dan menyita perhatian publik. Di tengah sorotan tajam terhadap tatanan tradisi lokal, langkah strategis ditempuh untuk meredam potensi perpecahan yang lebih luas di bumi bersejarah ini.
Sebagai upaya nyata dalam menjaga keharmonisan, Pemrakarsa Pertemuan sekaligus tokoh sentral adat, Andi Bau Malik Karaengta Tukkajanangngang, S.H., secara resmi menerbitkan surat undangan penting tertanggal 4 Agustus 2026.
“Dokumen tersebut menyerukan kepada seluruh kerabat serta pemangku kepentingan adat untuk segera duduk bersama dalam forum silaturahmi khusus, ” Jelasnya saat ditemui di jalan Sultan Alauddin Makassar secara tertutup.
Pertemuan krusial yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 6 Agustus 2026, ini dirancang bukan sekadar ajang mempererat tali persaudaraan, melainkan berfungsi sebagai instrumen mediasi yang sangat vital.
Kehadiran Andi Bau Malik Karaengta Tukkajanangngang sebagai penengah diharapkan mampu menjembatani perbedaan pendapat yang kian meruncing.
Langkah preventif ini diambil menyusul adanya riak-riak ketegangan yang dipicu oleh klaim sepihak dari Andi Imam Daeng Situju Bin Andi Kumala Andi Idjo. “Klaim tersebut dinilai sebagian kalangan keluarga besar berpotensi mengganggu stabilitas serta tatanan kultural yang selama ini dijunjung tinggi oleh masyarakat adat Gowa, ” Tambah tokoh adat setempat.
Menerawang pengamat sosial dan budaya setempat menilai bahwa langkah cepat para tokoh untuk merangkul kembali pihak-pihak yang berselisih merupakan keputusan yang patut diapresiasi. Jelas seorang tokoh tersebut dalam tradisi masyarakat Sulawesi Selatan, musyawarah untuk mufakat selalu menjadi jalan utama dalam menyelesaikan segala bentuk sengketa internal.
Kendati demikian, tantangan ke depan tentu tidak ringan. Berbagai pihak, termasuk lembaga legislatif dan pemerintah daerah, diharapkan turut memantau perkembangan ini secara bijak agar dinamika kultural tidak bergeser menjadi konflik terbuka yang dapat merugikan ketertiban umum di Kabupaten Gowa.
Di sisi lain, masyarakat luas diimbau agar tetap tenang dan tidak mudah terpancing oleh isu-isu provokatif yang sengaja diembuskan oleh oknum tidak bertanggung jawab. Stabilitas keamanan dan kedamaian wilayah harus tetap menjadi prioritas bersama di tengah proses penyelesaian sengketa adat yang sedang berjalan.
Melalui momentum pertemuan yang dimotori oleh Andi Bau Malik Karaengta Tukkajanangngang ini, optimisme mulai tumbuh di kalangan pemerhati budaya. Diharapkan, seluruh elemen keluarga besar Kerajaan Gowa dapat segera menemukan titik temu demi menjaga marwah, kehormatan, dan kelestarian sejarah Butta Gowa untuk generasi mendatang (707).






